Sejak kecil sampai saat ini, ada satu keyakinan mengenai kelemahan yang saya miliki dan masih saya yakini hingga sekarang: long-term memory saya payah. Saya jarang sekali bisa mengingat momen-momen di masa lalu, kecuali momen yang betul-betul mengena.

Parahnya lagi, saya bukan tipikal orang yang membuat jurnal. Jadi, betul-betul sebagian besar memori saat kecil sudah tidak bisa saya recall. Untuk itu, saya ingin coba membuat jurnal, belasan tahun setelah event tersebut terjadi, supaya bisa menjadi catatan untuk belasan tahun mendatang. Kita mulai dengan memori semasa sekolah dasar.

Saya tidak banyak ingat soal SD. Saya tidak ingat nama-nama guru yang mengajar, atau cerita sehari-hari yang mengalir, atau tingkah laku teman-teman sekelas. Yang saya ingat hanya beberapa momen sebagai berikut.

Playstation

Saya masih ingat betul saat-saat Papa memutuskan untuk membelikan saya Playstation. Sebelumnya, saat masih di kelas TK-B, saya sering main ke rumah tetangga: Bayu. Disitulah saya pertama kali mengenal Playstation, tepatnya game Crash Bandicoot. Saya sempat meminta ke Papa untuk membelikan Playstation. Papa mengiyakan dengan syarat saya dapat ranking 1. Kalau tidak salah, itu mendekati caturwulan 2. Tidak lama setelah itu, rapor caturwulan 2 keluar, dan saya dapat ranking (kalau tidak salah ranking 1 atau 2). Persis setelah ambil rapor, saat tiba di rumah, Papa langsung membuka koran hari itu bagian listing iklan dan mencari orang yang menjual Playstation. Penjual tersebut langsung dihubungi, dan tiba di rumah selang beberapa jam lengkap dengan Playstation dan beberapa kaset yang bisa saya pilih. Game pertama yang saya mainkan adalah Jersey Devil. Tak lama setelah Playstation dicoba, penjual tadi pamit dan meninggalkan saya dengan Playstation yang masih menyala. Alhasil, saya lanjutkan permainan hingga menjelang Maghrib karena hari itu persis hari Sabtu.

Jersey Devil (video game) - Wikipedia

Kantor Pos

Saat kelas 3, saya sering diminta oleh guru kelas untuk mengirimkan uang melalui giro pos. Kebetulan, dibelakang sekolah ada kantor pos yang melayani hal tersebut. Namun, pada saat itu saya tidak begitu memahami karena saya hanya dititipkan uang, lalu diminta untuk menyampaikannya ke kantor pos untuk dikirimkan ke alamat yang diberikan. Saya hanya mengikuti instruksi itu saja, tidak berpikir lebih. Setelah dewasa, saya baru sadar kalau selama ini saya bantu beliau untuk kirim uang. Sayapun masih tidak paham mengapa guru kelas ini begitu percaya dengan saya untuk memegang uang. Tapi tidak apa, karena saya jadi bisa jajan es serut di saat jam belajar berlangsung.

Kartu Pokemon & Tazos

Kelas 5 dan 6 saya didominasi oleh permainan kartu pokemon & tazos. Saya masih ingat kalau saya punya baju bertuliskan “Scratch”, yang juga merupakan serangan yang dimiliki oleh Mankey. Saya sering menggunakan baju tersebut di hari Jumat, karena biasanya kami adakan turnamen di kelas persis sebelum waktu Jumatan. Namun, kisah saya dengan kartu Pokemon berakhir kurang menyenangkan karena sebagian besar koleksi kartu saya tiba-tiba diambil oleh teman saya tanpa sepengetahuan saya. Itu juga yang membuat pertemanan kami berakhir.

Satu hal yang saya juga masih ingat: saya sering sekali berbohong ke Papa untuk minta uang jajan untuk membeli kartu pokemon (maafkan aku Papa). Rasanya jumlahnya tidak sedikit, mengingat di akhir hari saya punya banyak sekali kartu Pokemon (mungkin sampai 200 pc).

Original 1995 Mankey Pokemon Card RARE : Card 55/64 (Good Condition) | eBay

Ragnarok & Warnet

Saya sudah kenal warnet sejak kelas 4 SD, karena kebetulan ada warnet di dekat rumah. Saat itu game yang sedang booming adalah Counter Strike 1.5. Saya sering mengajak teman-teman kelas untuk bermain di warnet, laki-laki dan perempuan. Yang laki bermain Counter Strike, sedangkan yang perempuan bermain The Sims (yang tidak pernah bisa di-save sehingga mereka selalu mulai dari nol setiap kali bermain di warnet).

Lalu saya baru mengenal Ragnarok saat saya di kelas 6, 1 tahun sejak Ragnarok Online secara resmi tersedia di Indonesia di bawah naungan Lyto. Saya tidak tahu berapa banyak uang yang saya gunakan untuk membeli voucher & membeli zeny, padahal saya bukan pemain hardcore, dan tidak jadi apa-apa juga. Memang dasar anak-anak.

Menara

Satu memori yang juga masih melekat adalah di kelas 5 atau 6 saya sering sekali nongkrong di puncak menara yang ada di taman di depan sekolah. Kadang sampai berjam-jam, berbincang dengan teman. Saya tidak begitu ingat tentang pengalaman pertama memanjat dan saya juga tidak tahu alasan mengapa akhirnya hal tersebut menjadi kebiasaan. Lagi-lagi, memang dasar anak-anak.

Sekian cerita yang bisa saya sampaikan berdasarkan ingatan saya semasa sekolah dasar yang saya ingat di malam ini. Kalau ada hal lain yang saya ingat, akan saya share di jilid kedua.

Terima kasih sudah membaca!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *